Takdir yang memilih usai


Setelah perjumpaan kita di sosial media tempo hari, dan semua pengakuan yang mengganjal di hati. Entah kenapa aku mulai sering memikirkanmu. Ada sesal menyelinap di dasar jiwaku. Kenapa bukan dari dulu kau lakukan ini padaku?

Bukankah sekarang aku teramat jauh pergi, aku sudah menemukan hati yang lain, tempat berbagi segala resah dan gelisah.

Kenapa waktu dengan tega menghadirkanmu kembali?

Membawa kembali rindu yang mengabu, rindu yang dulu telah lenyap ditelan waktu. Kita kembali jatuh dalam perasaan yang kita sebut dengan cinta. Ah, bolehkah aku menyebutnya begitu? Aku bahkan tak boleh lagi mendambakanmu. Benar 'kan? 

Aku tau ini salah, ini dosa. Namun aku harus bagaimana? Aku terlanjur kembali jatuh, terlanjur menikmati rasa yang dulu pernah begitu mendambamu. Rasa yang dulu pernah sangat menginginkanmu.

Aku ingin menyudahi semuanya, menenggelamkanmu kembali di sudut hati, menyimpannya rapat sebagai kisah terindah. Biarlah aku yang mencintamu sendiri. Biarkan semua seperti dulu saat aku tak pernah merasakan cintamu. Saat aku kau abaikan dengan begitu tega.

Namun nyatanya, aku tetap saja tak bisa. Bayanganmu terus mengganggu ruang pikirku, menyelinap di hatiku, memaksaku jatuh cinta lagi kepadamu.


Apa kau juga merasakan hal yang sama sepertiku? Atau kau masih seperti dulu mempermainkan perasaanku?


Aku menuliskan ini sambil mendengarkan nyanyianmu. Lagu yang kau bilang hanya untukku, lagu yang bahkan kau tidak lagi menyanyikannya sekian waktu, baper katamu. Lalu kau bernyanyi lagi, mengirimkannya untukku. Aku meringis ngilu, ada sesak yang teramat menikam batinku. Membayangkan kau sedang bernyanyi dengan gitarmu, memainkan setiap nada dengan apik, sesekali kau menoleh ke arahku dengan sorot mata yang selalu aku suka. Andai.... 

Ah, semua sudah terlambat, takdir telah menuliskan jalan berbeda untuk kita. Aku telah jauh meninggalkan kita. 


Buat aku kembali membencimu, buat aku kembali merasakan sakit yang dahulu. Sungguh, aku ingin menepis semua tentangmu, tentang inginku mendambamu. Biarlah kita tetap menjadi masalalu.


Tetaplah baik-baik saja. Sehat-sehat dan bahagialah kamu di sana. Semoga kelak kau akan menemukan orang yang menyayangimu lebih dari rasa sayangku, seseorang yang akan berjuang untuk tetap bersamamu meski berkali-kali kau membuatnya menangis. Maaf, dulu aku tak sekuat itu mempertahankanmu.

Aku harus kembali pulang, berjuang bersama orang yang kini kusayang juga menyayangiku, orang yang tidak pernah mengabaikanku walau hanya sebentar. Orang yang tidak akan dengan tega membuangku seperti kamu dulu. 

Aku akan pulang, biarlah kau tetap kukenang sebagai orang yang pernah begitu kusayang. Biarlah kita saling merindukan walau tak bisa saling menemukan.

Komentar