Tentang Kamu dan Masa Yang Telah Berlalu

Entah bagaimana harus kumulai cerita ini. Entah bagaimana rasa itu mulai menyelinap dan diam di sudut hatiku, hingga dia tak kunjung pergi meski banyak cinta lain yang memaksa untuk masuk. Hatiku tertutup. Semua hubungan yang kujalin bukan atas nama cinta. Karena aku tahu, cinta yang bertahan di sana itu hanya untukmu.


Usiaku masih muda saat kau datang menggoda. Kuanggap semua hanya bercanda dan isapan jempol belaka. Nyatanya begitu dalam benakmu. Namun ternyata hati berkata lain. Aku mulai senang menatapmu dan mendengar suaramu dalam diam.


Mata yang meneduhkan, hidung mancung dengan bentuk wajah lancip, rambut ikal dan kulit hitam manis itu terus saja memaksa masuk memenuhi ruang pikirku. Membuat rindu bila sehari tak bertemu.


Kau adalah tetanggaku. Kau sering menghabiskan waktu di tanah lapang depan rumahku. Bermain sepakbola, atau kadang memainkan petikan gitar dengan suaramu yang merdu di bangku kayu yang sengaja dibuat untuk tempat tongkrongan anak-anak kampung kala itu.


Jika kau tak datang, aku akan mencari alasan untuk berjalan melewati rumahmu. Saat kulihat sandalmu tergeletak di depan rumah, aku senang, kau ada di rumah. Sengaja kukencangkan suara agar kau mendengarku, padahal mungkin, kau merasa saja tidak. Lucunya hari itu.


Begitulah aku mencari perhatianmu agar kau melihat dan merasakan debar yang sama sepertiku. Bukankah kau yang terlebih dulu menggoda, lantas kenapa tak pernah kau nyatakan cinta? Aku menunggu. Hingga dua tahun berlalu.


Hari itu aku menerima surat cinta darimu, tapi bukan untukku, melainkan untuk sahabat dekatku. Kau nyatakan kalau kau menyayanginya dan ingin menjadikannya kekasihmu. Dia memandangku bingung, aku menunduk dalam, menguatkan rasa agar tak terlihat hancur di depannya. Tentu saja dia tahu perasaanku terhadapmu, tapi aku memilih menguatkan diri. Bagiku, bahagiamu adalah bahagiaku. Aku tetap merawat cinta yang telah kutanam dengan senang hati. Luka itu hanya sementara. Lagipula kau tak tahu jika aku ada rasa padamu. Jadi kau melakukan hal itu. Aku maklum. Karena kelemahanku sebagai seorang wanita yang tidak mungkin mengungkap terlebih dulu rasa.


Hubunganmu dan temanku tak berjalan lama. Temanku berterus terang bahwa dia tak mau menyakitiku, maka dari itu kalian putus. Kau tahu? Aku marah dan kecewa. Aku malu, tak seharusnya aku menerima rasa kasihan darinya atau bahkan darimu. Karena bagiku cinta itu tak perlu berbalas. Aku ikhlas mencintaimu.


Aku memberi jarak. Tak ingin melihatmu. Meski derap langkahmu saja tetap membuat hatiku bergemuruh rindu. Setiap kau lewat di depan kamarku, aku begitu mengenal suara langkah kakimu. Aku bergegas mengintip lewat jendela kamar. Ah, kau masih sama, rasaku padamu masih sama.


Tiga tahun berlalu sudah aku memelihara rasa untukmu. Tak sekalipun pernah aku mengungkapnya secara langsung padamu. Kau telah tahu rasaku padamu, tapi tidak denganku. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasamu padaku.


Sampai hari itu, hari saat aku akan pergi belajar dan harus mondok. Kau mengirimiku surat cinta. Dua lembar kertas berwarna merah jambu dengan wangi yang khas di dalam amplop berwarna senada.


Kau meminta maaf atas sikapmu saat itu, yang telah melukai hatiku dan menyatakan cinta pada sahabatku. Kau bilang semua itu palsu. Kau mengikuti saran temanmu dan mengabaikan rasamu. Di dalam surat itu kau menyatakan bahwa kau pun sama mencintaiku. Kau akan menunggu hingga aku kembali. Kau menasehatiku agar aku betah di sana dan belajar dengan giat. Air mataku luruh. Cinta yang telah kupelihara begitu lama, cinta yang kupikir tak pernah berbalas itu mendapat jawaban membahagiakan. Betapa hatiku mengharu biru. Kudekap suratmu, kucium wanginya yang khas itu.


Aku kembali pulang setelah empat bulan, tak perlu kuceritakan bagian ini, kau tentu tahu alasan kenapa aku berhenti.


Aku kembali, begitupula cintaku yang kini bermuara di pelabuhan hatimu. Aku mendapatkan cintamu, akhirnya setelah sekian lama. Aku terlalu muda untuk hanyut dalam perasaan sedalam ini, tapi aku harus bagaimana, aku terlanjur bahagia.


Kau ingat, jika kau ingin bertemu denganku, kau akan mengetuk jendela kamarku. Aku membukanya, lalu kau tersenyum. "Keluarlah!" bisikmu pelan. Aku tahu, itu karena kamu malu. Aku bergegas keluar dan menemuimu.


Kita biasa bertemu di teras rumahku. Karena aku terlalu muda untuk membawa lelaki ke rumah dan mengenalkannya sebagai kekasih. Orangtua hanya menganggap kita berteman, itu saja. Kupikir kau pun tak ingin terlalu banyak orang tahu jika hubungan kita lebih dari teman. Kau memilih diam, menikmati setiap rasa hanya berdua saja denganku.


Suatu malam, aku masih ingat, kau terjebak hujan deras. Namun tetap memilih diam di teras rumah saat kupersilahkan masuk. Malu, katamu. Lalu kita menikmati hujan berdua. Gemericik suaranya bagaikan nyanyian penuh cinta, bau aromanya seakan memaksa kita hanyut dalam hening bersama, dalam peluk mesra yang hangat. Lagu tercipta untukku yang dibawakan grup band Ungu kala itu menjadi soundtrack perjalanan cinta kita.


-----


Hari berganti, enam bulan sudah kita menjadi sepasang kekasih. Aku mulai bosan dengan sikap dinginmu. Kau seperti menganggap aku ada dan tiada. Datang sesukamu, lalu pergi semaumu. Bahkan malam kesekian kali kita bertemu, kau meninggalkanku tanpa sepatah kata. Aku tahu kau malu karena teman-temanmu yang lain ada di situ, mereka tidak pernah tahu yang terjadi antara kita, aku paham, tapi tidakah kau menghargai sedikit saja perasaanku. Ah, begitulah sikapmu. Aku mulai benci mencintaimu.


Februari 2007, aku memilih mundur, tidak ada perempuan yang ingin diperlakukan sedingin itu. Setiap hubungan pasti ada saja pertengkaran, tapi hubungan kita tanpa penyelesaian. Aku bosan, dan memilih menutup rapat-rapat hatiku. Mencoba mematikan rasa yang tumbuh, dia telah layu, karena tak pernah kau sirami dengan baik.


Enam bulan berlalu setelah perpisahan kita, ternyata aku tak benar-benar bisa melupakanmu. Ya, mungkin kamu memang cinta pertama yang sulit dilupakan itu. Rasaku mulai kembali tumbuh karena pertemuan denganmu yang setiap waktu. Kita terlibat dalam organisasi karang taruna di kampung. Aku mulai merasakan kembali getaran cinta yang pernah menerpa hatiku. Sesungguhnya, aku memang tak pernah lupa akan cintamu. Apalagi saat melihatmu memainkan gitar dan bernyanyi merdu. Tapi ternyata kau telah memilih yang lain. Untuk kedua kalinya aku terluka olehmu. Mungkin memang aku yang salah karena telah memutuskan hubungan kita waktu itu. Kupikir memintamu kembali belum terlambat, namun ternyata aku salah.


Setelah itu, aku baru menutup rapat hatiku. Kusimpan cinta dan kenangan bersamamu di relung hati paling dalam.


Tahun 2009, kau pernah datang kembali. Kita berbicara banyak, meluruskan hal yang memang masih menggantung. Alasan-alasan klise cinta masa muda itu terucap di bibirmu. Aku hanya tersenyum. Aku telah memilih pria lain yang lebih baik darimu. Meski hati tetap menginginkanmu tapi aku sadar, cinta tak perlu saling memiliki. Seperti itu yang kau ucapkan saat aku ingin kembali.


Tahun berganti, aku pindah ke luar kota. Jangankan bertemu, kita benar-benar telah hilang kontak sejak pertemuan terakhir itu.

Lalu di tempatku yang baru, aku menemukan sosokmu pada pria lain. Sorot matamu, senyummu, semuanya. Dia mencuri setiap perhatianku, perlahan perasaanku padamu menghilang tergantikan oleh bayangnya. Kekasihku kala itu bahkan harus menelan kecewa karena aku memilihnya.


Dialah yang kini menjadi pendamping hidupku. Lihatlah, bahkan setelah sekian lama, bayangmu masih terkenang di memori ingatanku. Aku bahkan jatuh cinta pada pria yang sepertimu.


Kau tahu, sungguh mencintaimu bukanlah hal memalukan dan menyesalkan. Aku tetap bahagia karena kamu pernah menjadi bagian dari kisahku. Menjadi cinta pertama yang sulit dilupakan. Meski aku berjuang sendiri untuk mendapatkan dan memelihara cinta ini. Tak pernah aku menyesal walau hanya sedetik.


Setelah 15 tahun berlalu, bahkan debar itu masih ada saat aku menatapmu. Meski rasanya tak seperti dulu, tapi aku tahu, rasaku masih bersemi indah untukmu.


Dan hari ini, seseorang menyampaikan tentangmu. Kau bilang padanya, akulah mantan terindahmu, kekasih terbaikmu. Aku tersenyum. Ada rasa haru hinggap di dadaku. Dulu aku merasa sendirian mencintamu. Kini aku tahu, ternyata kau memang pernah juga membalas cintaku. Terimakasih.


Terakhir aku hanya ingin bilang.

Kau benar, cinta memang tak harus memiliki.

Meski tak bisa bersama, mari tetap menjadi tetangga, baik di dunia maupun di surga.


Di pojok kamar, 13 Februari 2021

Komentar