Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Takdir yang memilih usai

Setelah perjumpaan kita di sosial media tempo hari, dan semua pengakuan yang mengganjal di hati. Entah kenapa aku mulai sering memikirkanmu. Ada sesal menyelinap di dasar jiwaku. Kenapa bukan dari dulu kau lakukan ini padaku? Bukankah sekarang aku teramat jauh pergi, aku sudah menemukan hati yang lain, tempat berbagi segala resah dan gelisah. Kenapa waktu dengan tega menghadirkanmu kembali? Membawa kembali rindu yang mengabu, rindu yang dulu telah lenyap ditelan waktu. Kita kembali jatuh dalam perasaan yang kita sebut dengan cinta. Ah, bolehkah aku menyebutnya begitu? Aku bahkan tak boleh lagi mendambakanmu. Benar 'kan?  Aku tau ini salah, ini dosa. Namun aku harus bagaimana? Aku terlanjur kembali jatuh, terlanjur menikmati rasa yang dulu pernah begitu mendambamu. Rasa yang dulu pernah sangat menginginkanmu. Aku ingin menyudahi semuanya, menenggelamkanmu kembali di sudut hati, menyimpannya rapat sebagai kisah terindah. Biarlah aku yang mencintamu sendiri. Biarkan semua seperti dulu...

Rindu - LDR

 RINDU Syair ini aku haturkan Pada jiwa yang tak mampu kugapai Pada raga yang hanya menyisakan bayang Dekap yang kian menjadi angan Kita pernah saling bersua Dalam cinta yang paling sempurna Memadukan rasa hingga ke dasar jiwa Mencicipi nikmatnya hidup bersama Kita pernah saling terjaga Pada waktu yang cukup lama Lalu takdir membawa kita pada satu cerita Perpisahan yang sementara Namun menyisakan rindu yang menyiksa Menggenangkan kenangan saat berdua Pada semesta aku berdo'a Semoga waktu kembali memihak kita Menyatukan hasrat yang terpendam lama Menyembuhkan hati yang pernah merana Mengeratkan cinta Bersamamu hingga ke surga Menunggumu di kamar kita, 20 Februari 2021

Tentang Kamu dan Masa Yang Telah Berlalu

Entah bagaimana harus kumulai cerita ini. Entah bagaimana rasa itu mulai menyelinap dan diam di sudut hatiku, hingga dia tak kunjung pergi meski banyak cinta lain yang memaksa untuk masuk. Hatiku tertutup. Semua hubungan yang kujalin bukan atas nama cinta. Karena aku tahu, cinta yang bertahan di sana itu hanya untukmu. Usiaku masih muda saat kau datang menggoda. Kuanggap semua hanya bercanda dan isapan jempol belaka. Nyatanya begitu dalam benakmu. Namun ternyata hati berkata lain. Aku mulai senang menatapmu dan mendengar suaramu dalam diam. Mata yang meneduhkan, hidung mancung dengan bentuk wajah lancip, rambut ikal dan kulit hitam manis itu terus saja memaksa masuk memenuhi ruang pikirku. Membuat rindu bila sehari tak bertemu. Kau adalah tetanggaku. Kau sering menghabiskan waktu di tanah lapang depan rumahku. Bermain sepakbola, atau kadang memainkan petikan gitar dengan suaramu yang merdu di bangku kayu yang sengaja dibuat untuk tempat tongkrongan anak-anak kampung kala itu. Jika kau ...